Tampilkan postingan dengan label diabetes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diabetes. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juli 2012

Khasiat Teh Hitam Mind Tea


Kali ini mau bahas tentang khasiat TEH HITAM yang memang mirip dengan teh asal negeri jepang ( teh hijau ) Selama ini teh hijau dipercaya mampu mengurangi serangan koroner, stroke, diabetes, darah tinggi, dan kanker hati menjadi penyakit yang menakutkan bagi setiap orang. Sehingga banyak produsen teh berlomba-lomba mengeluarkan produk minuman teh hijau kemasan yang lebih praktis. Tetapi benarkan hanya teh hijau yang berkhasiat seperti itu?
Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ali Khomsan MS dan ahli kesehatan jantung Dr Mohammad Taufik Spj dalam sebuah diskusi tentang teh, di Bogor, belum lama ini mengemukakan, teh hitam (black tea) juga berkhasiat sama seperti teh hijau karena kandungan radikal bebas yang terkandung di dalamnya

Memang benar teh hitam mempunyai manfaat seperti menurunkan risiko kanker, mencegah jantung koroner, mencegah penuaan, dan juga bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah,’ kata Prof Dr Ali Khomsan.
Prof Ali menjelaskan, dari berbagai referensi, diketahui bahwa teh hitam yang selama ini dikonsumsi masyarakat kita cukup banyak mengandung komponen senyawa yang baik bagi tubuh. Utamanya adalah antioksidan serta Theaflavin cukup tinggi. Senyawa itulah yang mempunyai efek dapat mengurangi risiko-risiko penyakit seperti kanker dan mencegah jantung koroner. ‘Teh hitam atau black tea itu dibuat dari pucuk daun teh segar yang dibiarkan menjadi layu sebelum digulung, kemudian dipanaskan dan dikeringkan. Teh hitam disebut juga teh fermentasi’ tutur Ali Khomsan.
Salah seorang pakar kesehatan jantung dari Kota Hujan Bogor, Dr H Mohammad Taufik SpJ mendukung pendapat Prof Dr Ali Khomsan yang menyebutkan teh hitam bermanfaat untuk mengurangi penyakit jantung koroner, kanker, diabetes dan stroke.
Sayangnya, menurut Taufik, manfaat yang terkandung dalam meminum teh hitam belum banyak diketahui oleh masyarakat. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi maupun publikasi dari berbagai penelitian tentang manfaat black tea bagi kesehatan.
Beberapa waktu lalu, Pusat Jantung Nasional Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta (RSJHK) juga memaparkan hasil penelitiannya dalam talkshow dengan tema ‘Efek Teh Hitam dalam Mencegah dan Mengatasi Risiko Penyakit Jantung Koroner’ di aula RSJHK Jakarta. Menurut hasil penelitian tersebut, Katekin dalam teh hitam, senyawa yang disebut-sebut sebagai aktor yang mampu melawan penyakit degeneratif adalah senyawa Theaflavin.
Senyawa Theaflavin merupakan antioksidan, anti kanker, anti mutagenik, antidiabetes dan anti penyakit lainnya. Senyawa Theaflavin dalam Teh hitam jumlahnya cukup signifikan.
Secara sederhana, antioksidan dinyatakan sebagai senyawa yang mampu menghambat atau mencegah terjadinya oksidasi. Berdasarkan sumbernya, anti oksidan dapat dibagi menjadi antioksidan alami dan sintetis.
Theaflavin merupakan antioksidan alami yang sangat potensial. Kemampuannya sebagai penangkap radikal bebas sudah tidak dapat dipungkiri lagi kesahihannya. Kemampuan theaflavin sebagai antioksidan ternyata tidak cukup sampai di situ.
Aktivitasnya sebagai antioksidan dalam menghambat oksidasi low density lippoprotein (LDL) ternyata menunjukkan hal yang menakjubkan. Dalam seduhan teh hitam, theaflavin memberikan warna merah kekuningan.
Sementara itu thearubigin dan theanapthoquinone masing-masing memberi warna merah kecoklatan dan kuning pekat. Untuk hal rasa, bersama-sama kafein, theaflavin yang ada dalam teh hitam memberikan rasa segar
Penelitian di Belanda menyimpulkan bahwa kebiasaan minum teh hitam dapat mencegah penimbunan kolesterol pada pembuluh darah arteri, terutama pada wanita. Minum teh hitam satu sampai dua cangkir mampu menekan penimbunan kolesterol hingga 46 persen dan jika minum 4 cangkir dapat mencapai 69 persen.
Hal tersebut ditunjang oleh hasil penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan serangan jantung berkurang 40 persen pada orang-orang yang membiasakan minum teh hitam.
Teh hitam juga menunjukkan kemampuan yang meyakinkan sebagai sumber bahan pangan alami bagi para penderita diabetes, terutama dalam kapasitasnya menaikkan aktivitas insulin.
Penelitian yang dilakukan Departemen Pertanian Amerika Serikat yang telah dipublikasikan dalam Journal Agric Food Chem 2002, menunjukkan kemampuan teh hitam meningkatkan aktifitas insulin melebihi dari teh hijau maupun teh Oolong.
Menurut Mohammad Taufik, biasanya, para ahli kesehatan akan mempublikasikan hasil penelitiannya, setelah beberapa kali melakukan penelitian. Bila hasil penelitiannya menunjukkan hasil yang sama, baru penelitian tersebut dipublikasikan. Namun bila baru satu kali penelitian, hasilnya belum akan dipublikasikan.
‘Kalau penelitian itu baru sekali kami lakukan tidak mungkin kami mempublikasikannya. Biasanya penelitian yang telah dipublikasikan adalah penelitian yang telah berulang-ulang,’ ujar dokter sepesialis jantung ini.

Selasa, 08 Februari 2011

Keliru, Jika Penderita Diabetes Lebih Suka Bubur dan Lontong

Selama ini orang yang terdiagnosa dengan diabetes banyak yang menghindari makan nasi tapi malah makan bubur atau lontong. Perilaku ini keliru karena bubur dan lontong justru lebih cepat menaikkan gula darah ketimbang nasi.
 
“Bubur dan lontong itu malah lebih cepat menaikkan gula darah ketimbang nasi. Karena semakin makanan mudah diolah pencernaan maka proses pembentukan gula darah akan semakin cepat,” jelas Dr Benny Kurniawan dalam acara Temu Media Siaga 140 di No Signboard Seafood Restaurant, Pasific Place, Jakarta, Kamis (23/12/2010).

Menurut Dr Benny, semakin utuh bentuk makanan maka grafik kenaikan gula darah akan semakin lambat. Sedangkan makanan yang sudah tidak utuh atau sudah diolah seperti bubur dan lontong justru lebih cepat menaikkan gula darah. Makanan yang lama diolahnya (karbohidrat kompleks) itu antara lain gandum utuh, beras merah, singkong, ketela, jagung.

Dr Benny juga mengatakan ada paradigma yang salah yang banyak beredar di masyarakat, salah satunya yang menyebutkan bahwa orang diabetes tidak boleh makan nasi. “Sebenarnya orang diabetes tetap boleh makan nasi, karena yang penting bukan nggak makan nasinya, tapi total kalori dan total karbohidrat yang ia makan,” lanjut Dr Benny yang merupakan dokter lulusan Fakultas Kedokteran UI.

Orang yang sudah terdiagnosa diabetes biasanya akan dirujuk dokter ke ahli gizi, agar pasien tersebut bisa menghitung jumlah kalori yang ia konsumsi.

“Pasien itu harus bisa jadi dokter itu dirinya sendiri. Pasien juga harus pintar menghitung kalori yang ia masukan ke dalam tubuh. Cara yang mudah adalah dengan carbohydrate counting,” lanjut Dr Benny.

Dr Benny menjelaskan, carbohydrate counting adalah cara untuk menyederhanakan penghitungan kalori yang selama ini dianggap rumit. Pada intinya, untuk penderita diabetes yang terpenting ada penghitungan kalori yang berasal dari karbohidrat.

“Gula darah naik turun itu kan yang utama dipengaruhi oleh karbohidrat, jadi agar mudah menghitung kalori, cukup dengan penghitungan kalori yang berasal dari karbohidrat. Jadi makan nasi sebenarnya sah-sah saja, asal dia pintar menghitung berapa kalori karbohidrat dari nasi tersebut,” kata Dr Benny.

Selain paradigma yang tidak boleh makan nasi, Dr Benny juga menyebutkan paradigma lain yang juga banyak beredar di masyarakat, yaitu anak gemuk yang terlihat lucu dan menggemaskan.

“Ya memang tampak lucu, tapi anak yang gemuk sejak kecil akan berpotensi besar mengalami diabetes di usia dini. Di Jakarta dan kota-kota besar orang mengalami diabetes dini sangatlah mungkin,” jelas Dr Benny.

Gaya hidup yang serba instan, sering makan makanan cepat saji, jarang bergerak merupakan faktor penting yang dapat membuat seseorang menderita diabetes, tak terkecuali orang yang masih muda.

“Dulu tren orang terkena diabetes di atas usia 40 tahun, tapi sekarang di bawah usia 35 atau bahkan di usia kepala dua juga bisa kena diabetes. Penyebabnya karena anak dibiarkan kegemukan atau bahkan obesitas sejak kecil, akhirnya pas remaja dia bisa kena pre-diabetes dan bila tidak segera diatasi bisa kena diabetes seumur hidup,” tutup Dr Benny. Sumber: detikhealth.com

Bijaksana Mengonsumsi Gula

Siapa tak suka dengan rasa manis? Boleh dikata, bahkan tak ada seorang pun menolak jika harus menempatkan rasa manis sebagai pilihan utama pada menu yang dikonsumsi. Nah, sebagai salah satu rasa dasar, manis awalnya identik dengan gula. Dari alam, gula yang kita kenal sekarang, berasal dari tanaman tebu, bit, serta keluarga palma seperti kelapa dan aren.

Gula atau sukrosa adalah bentuk dari karbohidrat. Pada prosesnya, sukrosa mesti melalui pemurnian untuk menjadi gula kristal yang dikenal khalayak.

Untuk manusia, gula bagi sel-sel tubuh merupakan energi yang menggerakkan sel-sel. Gula pun membuat sel-sel otot bisa bergerak, enzim dapat membuat enzim, sel darah putih bisa melawan penyakit, dan lain-lain. Sejatinya, gula yang juga terkandung di dalam EJ, adalah energi untuk proses berguna bagi tubuh.

Hasil riset ilmiah menunjukan, antara 40 persen sampai dengan 60 persen total kalori kebanyakan orang diperoleh dari karbohidrat, khususnya kompleks, dan mengandung gula alami. Sekadar Anda tahu, karbohidrat kompleks mengandung kalori, vitamin, mineral, dan serat.

Sementara itu, perkembangan teknologi memang memunculkan beberapa temuan pemanis buatan. Misalnya, siklamat. Uniknya, siklamat memiliki kadar kemanisan hingga 200 kali gula alami.

Makanya, pemakaian siklamat dalam jumlah sedikit ketimbang gula alami, sudah menghasilkan rasa manis. Oleh karena itulah, pilihan pada siklamat sebagai pengganti gula alami kerap diambil oleh pelaku bisnis minuman maupun makanan. Dari segi biaya, lebih efisien menggunakan siklamat bukan?

Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) sudah menyatakan hal pemanis buatan itu. Keputusan Kepala Badan POM No HK 00.05.5.1.4547 tahun 2004 pasal 2 butir 2 menyatakan pemanis buatan digunakan pada pangan rendah kalori dan pangan tanpa penambahan gula. Selain itu pemanis buatan sebenarnya hanya untuk penderita diabetes mellitus atau orang yang sedang diet saja (Peraturan Menteri Kesehatan No. 208 tahun 1985 pasal 10 ayat 4 dan pasal 11 ayat 2 butir c).

Kembali pada gula, pada akhirnya, sama tidak bijaksananya jika Anda mengonsumsi berlebihan. Soalnya, segala sesuatu yang berlebihan, ujung-ujungnya akan membawa banyak kerugian. Beragam penyakit, utamanya.

Pola makan berikut sikap tegas mengatur asupan gula ke dalam tubuh adalah cara paling tepat agar Anda tetap hidup sehat. Sumber: Kompas.com | Penulis: primus

Minggu, 08 November 2009

Testimoni : Diabetes….bisa dikendalikan kok…

Kata doker saya ini menderita DIABETES keturunan.Sudah hampir sepuluh tahun ini hidup saya selalu was-was .
Bagaimana tidak wong gula darah saya bisa 350 mg/dl, trigliserit juga tinggi banget,temen-temen kalau dikasih tau “njondhil” semua, “Ojo main-main kowe Tet, iso MOOODHAAR tenan kowe nek ngak dirawat! Maksudnya diobati begitu lhoo….
Lha tapi itu khan malah tambah menakutkan iyaaakan? Padahal hidup jaman sekarang sudah MENAKUTKAN lhoo mas.
Eeeee….malah ditambah-tambahin, bonus kok takut.

Orang diabetes terutama yang GD nya sudah tinggi seperti saya kalau bangun tidur BBYAARR…begitu biasanya langsung ngontrol GD. Saya punya alatnyaitu.Tapi sampai bosen…lha ngak banyak berubah.MONOTON ,selalu diatas 200 mg/dl.
TAPI ITU DULU MAS…ITU DULU MBAK!

Sudah 4 bulan ini saya minum teratur 4 gelas sehari The Hitam MIND TEA, kini setiap pagi, saya selalu dapat SUUUR…PRIISE!!
Gula darah saya kalau bangun tidur itu, kini selalu ada diantara 111mg/dl-115m/dl.
LHOO…..NORMAL  BANGET TO!

Lha kalau untuk urusan pasutri, he..he..he...tambah ngggantheng itu ..nya. Apalagi urusan makan, sudah tidak ada masalah.Kemarin itu saya coba minum NASGITHEL, pakai gula batu,Agak ketir-ketir juga awalnya, tapi ndak apa-apa itu.
Padahal gula batu itu.

Oooo …lha kalau begini caranya, sekarang saya mendingan kemana-mana selalu bawa Teh Hitam MIND TEA

Source :

http://healthyguidenews.com/


 
Advertise