Tampilkan postingan dengan label DM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Februari 2011

Keliru, Jika Penderita Diabetes Lebih Suka Bubur dan Lontong

Selama ini orang yang terdiagnosa dengan diabetes banyak yang menghindari makan nasi tapi malah makan bubur atau lontong. Perilaku ini keliru karena bubur dan lontong justru lebih cepat menaikkan gula darah ketimbang nasi.
 
“Bubur dan lontong itu malah lebih cepat menaikkan gula darah ketimbang nasi. Karena semakin makanan mudah diolah pencernaan maka proses pembentukan gula darah akan semakin cepat,” jelas Dr Benny Kurniawan dalam acara Temu Media Siaga 140 di No Signboard Seafood Restaurant, Pasific Place, Jakarta, Kamis (23/12/2010).

Menurut Dr Benny, semakin utuh bentuk makanan maka grafik kenaikan gula darah akan semakin lambat. Sedangkan makanan yang sudah tidak utuh atau sudah diolah seperti bubur dan lontong justru lebih cepat menaikkan gula darah. Makanan yang lama diolahnya (karbohidrat kompleks) itu antara lain gandum utuh, beras merah, singkong, ketela, jagung.

Dr Benny juga mengatakan ada paradigma yang salah yang banyak beredar di masyarakat, salah satunya yang menyebutkan bahwa orang diabetes tidak boleh makan nasi. “Sebenarnya orang diabetes tetap boleh makan nasi, karena yang penting bukan nggak makan nasinya, tapi total kalori dan total karbohidrat yang ia makan,” lanjut Dr Benny yang merupakan dokter lulusan Fakultas Kedokteran UI.

Orang yang sudah terdiagnosa diabetes biasanya akan dirujuk dokter ke ahli gizi, agar pasien tersebut bisa menghitung jumlah kalori yang ia konsumsi.

“Pasien itu harus bisa jadi dokter itu dirinya sendiri. Pasien juga harus pintar menghitung kalori yang ia masukan ke dalam tubuh. Cara yang mudah adalah dengan carbohydrate counting,” lanjut Dr Benny.

Dr Benny menjelaskan, carbohydrate counting adalah cara untuk menyederhanakan penghitungan kalori yang selama ini dianggap rumit. Pada intinya, untuk penderita diabetes yang terpenting ada penghitungan kalori yang berasal dari karbohidrat.

“Gula darah naik turun itu kan yang utama dipengaruhi oleh karbohidrat, jadi agar mudah menghitung kalori, cukup dengan penghitungan kalori yang berasal dari karbohidrat. Jadi makan nasi sebenarnya sah-sah saja, asal dia pintar menghitung berapa kalori karbohidrat dari nasi tersebut,” kata Dr Benny.

Selain paradigma yang tidak boleh makan nasi, Dr Benny juga menyebutkan paradigma lain yang juga banyak beredar di masyarakat, yaitu anak gemuk yang terlihat lucu dan menggemaskan.

“Ya memang tampak lucu, tapi anak yang gemuk sejak kecil akan berpotensi besar mengalami diabetes di usia dini. Di Jakarta dan kota-kota besar orang mengalami diabetes dini sangatlah mungkin,” jelas Dr Benny.

Gaya hidup yang serba instan, sering makan makanan cepat saji, jarang bergerak merupakan faktor penting yang dapat membuat seseorang menderita diabetes, tak terkecuali orang yang masih muda.

“Dulu tren orang terkena diabetes di atas usia 40 tahun, tapi sekarang di bawah usia 35 atau bahkan di usia kepala dua juga bisa kena diabetes. Penyebabnya karena anak dibiarkan kegemukan atau bahkan obesitas sejak kecil, akhirnya pas remaja dia bisa kena pre-diabetes dan bila tidak segera diatasi bisa kena diabetes seumur hidup,” tutup Dr Benny. Sumber: detikhealth.com

Bijaksana Mengonsumsi Gula

Siapa tak suka dengan rasa manis? Boleh dikata, bahkan tak ada seorang pun menolak jika harus menempatkan rasa manis sebagai pilihan utama pada menu yang dikonsumsi. Nah, sebagai salah satu rasa dasar, manis awalnya identik dengan gula. Dari alam, gula yang kita kenal sekarang, berasal dari tanaman tebu, bit, serta keluarga palma seperti kelapa dan aren.

Gula atau sukrosa adalah bentuk dari karbohidrat. Pada prosesnya, sukrosa mesti melalui pemurnian untuk menjadi gula kristal yang dikenal khalayak.

Untuk manusia, gula bagi sel-sel tubuh merupakan energi yang menggerakkan sel-sel. Gula pun membuat sel-sel otot bisa bergerak, enzim dapat membuat enzim, sel darah putih bisa melawan penyakit, dan lain-lain. Sejatinya, gula yang juga terkandung di dalam EJ, adalah energi untuk proses berguna bagi tubuh.

Hasil riset ilmiah menunjukan, antara 40 persen sampai dengan 60 persen total kalori kebanyakan orang diperoleh dari karbohidrat, khususnya kompleks, dan mengandung gula alami. Sekadar Anda tahu, karbohidrat kompleks mengandung kalori, vitamin, mineral, dan serat.

Sementara itu, perkembangan teknologi memang memunculkan beberapa temuan pemanis buatan. Misalnya, siklamat. Uniknya, siklamat memiliki kadar kemanisan hingga 200 kali gula alami.

Makanya, pemakaian siklamat dalam jumlah sedikit ketimbang gula alami, sudah menghasilkan rasa manis. Oleh karena itulah, pilihan pada siklamat sebagai pengganti gula alami kerap diambil oleh pelaku bisnis minuman maupun makanan. Dari segi biaya, lebih efisien menggunakan siklamat bukan?

Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) sudah menyatakan hal pemanis buatan itu. Keputusan Kepala Badan POM No HK 00.05.5.1.4547 tahun 2004 pasal 2 butir 2 menyatakan pemanis buatan digunakan pada pangan rendah kalori dan pangan tanpa penambahan gula. Selain itu pemanis buatan sebenarnya hanya untuk penderita diabetes mellitus atau orang yang sedang diet saja (Peraturan Menteri Kesehatan No. 208 tahun 1985 pasal 10 ayat 4 dan pasal 11 ayat 2 butir c).

Kembali pada gula, pada akhirnya, sama tidak bijaksananya jika Anda mengonsumsi berlebihan. Soalnya, segala sesuatu yang berlebihan, ujung-ujungnya akan membawa banyak kerugian. Beragam penyakit, utamanya.

Pola makan berikut sikap tegas mengatur asupan gula ke dalam tubuh adalah cara paling tepat agar Anda tetap hidup sehat. Sumber: Kompas.com | Penulis: primus